Bung Ruli Eka Pratama dan Jalan Panjang Kepemimpinan Buruh di Sumatera Barat

KMN, PADANG | Aula Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat di kawasan Gunung Pangilun siang itu terasa berbeda. Derap langkah para delegasi serikat pekerja dari berbagai penjuru Sumatera Barat berpadu dengan percakapan serius tentang masa depan buruh. Musyawarah Daerah Bersama DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Sumatera Barat bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum penentuan arah perjuangan lima tahun ke depan.

Di forum inilah nama Ruli Eka Pratama mengemuka. Sosok yang akrab disapa Bung Ruli itu akhirnya dipercaya menakhodai KSPSI Sumbar, setelah melalui proses musyawarah yang panjang, terbuka, dan penuh dinamika. Dukungan mayoritas federasi mengantarkannya menjadi Ketua DPD KSPSI Sumbar.

Musda berlangsung dalam suasana demokratis. Setiap federasi menyampaikan pandangan, mencerminkan denyut nadi buruh dari sektor yang beragam—mulai dari industri kimia dan energi, transportasi, percetakan dan media, hingga sektor jasa dan perbankan. Perbedaan pandangan sempat mencuat, namun forum tetap berjalan tertib di bawah pimpinan sidang Wasekjen II DPP KSPSI, Ferri Nuzarli.

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia membuka Musda secara virtual. Dalam sambutannya, Prof. Yassierli menegaskan bahwa serikat pekerja bukan hanya alat perjuangan normatif, tetapi pilar penting dalam menciptakan hubungan industrial yang sehat dan berkeadilan. Pesan itu seolah menjadi pengingat bahwa kepemimpinan KSPSI Sumbar ke depan akan dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks.

Bagi Ruli Eka Pratama, amanah tersebut bukan sekadar kemenangan politik organisasi. “Ini bukan jabatan, tapi tanggung jawab,” ucapnya lirih namun tegas usai penetapan. Kalimat itu mencerminkan kesadaran bahwa di balik struktur organisasi, terdapat jutaan pekerja yang menggantungkan harapan pada suara serikat.

Ruli menyadari, persoalan buruh hari ini tidak lagi sesederhana tuntutan upah. Isu jaminan sosial, kepastian kerja, perlindungan pekerja informal, hingga dampak perubahan teknologi menjadi tantangan nyata. “KSPSI harus hadir, bukan hanya bersuara, tetapi juga memberi solusi,” katanya.

Dalam pandangannya, konsolidasi internal menjadi kunci. Organisasi buruh harus solid agar mampu berdialog sejajar dengan pemerintah dan dunia usaha. Tanpa kekuatan kolektif, perjuangan buruh akan mudah terpinggirkan oleh kepentingan ekonomi dan politik.

Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat dengan pemerintah daerah. Bagi Ruli, serikat pekerja tidak harus selalu berada di posisi berseberangan. “Kami ingin menjadi mitra strategis, bukan oposisi tanpa arah,” ujarnya.

Musda ini tidak hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga menjadi ruang refleksi. Para delegasi menyampaikan keluhan dan harapan—tentang buruh yang belum terdaftar jaminan sosial, pekerja informal yang luput dari perlindungan hukum, hingga ketimpangan upah yang masih terasa nyata di lapangan.

Forum tersebut menegaskan bahwa perjuangan buruh di Sumatera Barat masih panjang. Namun, dengan kepemimpinan baru, muncul optimisme bahwa KSPSI Sumbar dapat menjadi rumah besar perjuangan pekerja lintas sektor.

Di akhir Musda, doa bersama mengiringi penutupan acara. Tidak ada euforia berlebihan, hanya tekad yang menguat. Bagi Bung Ruli Eka Pratama, langkah baru saja dimulai. Jalan yang akan ditempuh mungkin terjal, penuh negosiasi dan kompromi, tetapi satu hal yang diyakini: suara buruh tidak boleh padam.

KSPSI Sumbar kini menatap masa depan dengan harapan baru—bahwa kesejahteraan pekerja bukan sekadar slogan, melainkan tujuan bersama yang diperjuangkan dengan konsistensi dan keberanian.

Nano Bojes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *