Pacu Bugih, Tradisi Minangkabau yang Tetap Bertahan di Tengah Riuh Pacu Kuda

Bukik Gombak, Batusangkar | Di balik gegap gempita Pacu Kuda yang selalu menyedot perhatian ribuan penonton, terselip sebuah tradisi lama yang tetap setia dipertahankan masyarakat Minangkabau, yakni Pacu Bugih. Tradisi ini menjadi sajian pembuka sebelum dentuman adrenalin pacu kuda utama dimulai di gelanggang.

Bagi pecinta pacuan yang telah memadati Gelanggang Dang Tuanku Bukit Gombak, Pacu Bugih menjadi tontonan tersendiri. Meski kerap dipandang sebagai lomba pembuka dan kurang mendapat sorotan dibanding pacu kuda utama, Pacu Bugih justru menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang dalam.

Berbeda dengan Pacu Kuda yang menitikberatkan pada kecepatan mencapai garis finis, Pacu Bugih memiliki kriteria penilaian yang unik dan khas. Penilaian tidak hanya melihat siapa yang paling cepat, tetapi lebih menekankan pada cara kuda berlari. Bahkan, kuda yang berpacu terlalu rapat dengan bugih lain bisa mengurangi nilai penilaian.

Keunikan inilah yang membuat Pacu Bugih memiliki karakter tersendiri. Kuda yang tampil lincah, stabil, dan konsisten dalam irama lari akan mendapatkan nilai lebih tinggi dibanding kuda yang hanya mengandalkan kecepatan semata.

Sejarah mencatat, Pacu Bugih telah dikenal sejak zaman dahulu di Minangkabau. Tradisi ini menjadi hiburan eksklusif bagi kaum bangsawan dan raja-raja. Tak hanya itu, Pacu Bugih juga pernah difungsikan sebagai ajang prestisius untuk menilai kualitas kuda, bahkan menjadi sarana sosial dalam mencari menantu bagi penguasa lokal pada masanya.

Seiring perjalanan waktu, Pacu Bugih tidak hilang ditelan zaman. Tradisi ini justru bertransformasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap gelaran Pacu Kuda di Sumatera Barat, termasuk di Tanah Datar.

Dalam pelaksanaannya saat ini, sistem penilaian Pacu Bugih tetap mempertahankan pakem lama. Para juri menilai teknik lari kuda, keseimbangan, respons terhadap kendali joki, hingga keharmonisan antara joki dan kuda selama perlombaan berlangsung.

Selain kuda, teknik berkuda para joki juga menjadi perhatian utama. Ketepatan memberi aba-aba, ketenangan, serta kemampuan menjaga ritme lari kuda menjadi faktor penentu dalam perolehan nilai akhir.

Pada gelaran Pacu Kuda di Gelanggang Dang Tuanku Bukit Gombak yang berlangsung pada 8–9 Februari 2026, Pacu Bugih digelar sebagai pembuka alek. Tercatat sebanyak empat race dilaksanakan pada hari pertama dan empat race pada hari kedua, dengan total hadiah mencapai hingga Rp6 juta.

Pacu Bugih bukan sekadar perlombaan, melainkan representasi kekayaan budaya Minangkabau yang sarat nilai tradisi. Keunikan sistem penilaian serta sejarah panjang yang melekat menjadikannya simbol kebanggaan masyarakat setempat.

Dengan pelestarian dan promosi yang berkelanjutan, Pacu Bugih diyakini akan terus hidup dan berkembang sebagai bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Tradisi ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya, khususnya bagi pengunjung yang datang menyaksikan Pacu Kuda di Gelanggang Dang Tuanku, Bukit Gombak, Kabupaten Tanah Datar.

TIM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *