Wirabraja 2026: Dentum Tapak Kuda, Denyut Tradisi, dan Janji Oktober yang Dinanti

Tanah Datar | Dentuman tapak kuda, sorak penonton, dan debu yang beterbangan di Gelanggang Pacu Kuda Dang Tuanku Bukit Gombak menjadi saksi hidup bahwa tradisi masih berdenyut kuat di Ranah Minang. Selama dua hari, Minggu hingga Senin (8–9 Februari 2026), Wirabraja Pacu Kuda Open Race dan Tradisional 2026 menjelma menjadi magnet rakyat—menyatukan olahraga, budaya, dan kebanggaan anak nagari dalam satu euforia besar.

Sejak pagi hari pertama, arus masyarakat tak terbendung. Tribun non permanen dipenuhi penonton, sementara ribuan lainnya rela berdiri hingga ke tengah lapangan. Anak-anak, orang tua, pedagang, perantau yang pulang kampung, semua larut dalam atmosfer khas pacu kuda—hiburan rakyat yang diwariskan turun-temurun dan tak pernah kehilangan pesonanya.

Bagi masyarakat Tanah Datar, pacu kuda bukan sekadar kompetisi adu cepat. Ia adalah ingatan kolektif, simbol kegigihan, sekaligus ruang perjumpaan sosial yang menghidupkan nagari. Itulah sebabnya, setiap kali Wirabraja digelar, antusiasme selalu meledak, seolah rindu lama akhirnya terbayar.

Penutupan resmi Wirabraja 2026 dilakukan langsung oleh Bupati Tanah Datar Eka Putra, SE, MM, Senin sore (9/2/2026). Dalam suasana penuh kehangatan, Bupati menegaskan bahwa pacu kuda adalah warisan nenek moyang yang wajib dijaga, bukan sekadar agenda tahunan yang lewat begitu saja.

“Pacu kuda ini adalah olahraga tradisi dari nenek moyang kita. Saya hanya melanjutkan. Jika kita semua tertib, insya Allah bulan Oktober 2026 pacu kuda akan kembali kita laksanakan,” ujar Eka Putra, disambut tepuk tangan panjang penonton.

Bupati juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat menyukseskan kegiatan tersebut. Mulai dari Dandim 0307 Tanah Datar Letkol Inf Agus Priyo Pujo Sumedi selaku Ketua Pelaksana, jajaran Forkopimda, Pordasi Sumatera Barat, para donatur, panitia, pelaku UMKM, hingga masyarakat Tanah Datar yang menjaga suasana tetap kondusif.

Tak sekadar meriah, Wirabraja 2026 juga tercatat aman dan tertib. Sebanyak 93 ekor kuda dari berbagai daerah ambil bagian dalam ajang ini, menghadirkan persaingan sengit namun tetap menjunjung sportivitas. Keberhasilan ini, menurut Bupati, tak lepas dari peran pengunjung dan panitia yang saling menjaga.

“Tanpa dukungan penonton, UMKM, panitia, dan semua unsur, acara ini tidak akan semeriah yang kita rasakan hari ini,” ucapnya.

Lebih jauh, Eka Putra berharap Pordasi Sumbar kembali mengagendakan pacu kuda di Tanah Datar pada Oktober 2026. Namun ia juga mengingatkan pentingnya ketertiban, terutama bagi penonton agar tidak memasuki arena pacu dan selalu mengikuti arahan petugas.

“Kalau tertib, kepercayaan akan terus diberikan. Tradisi ini harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Pesan penutup pun disampaikan dengan nada kebapakan. Bupati mengimbau masyarakat untuk selamat kembali ke rumah masing-masing dan menyampaikan terima kasih kepada tamu dari luar daerah yang telah datang dan turut menghidupkan Wirabraja 2026.

Senada dengan Bupati, Ketua Pelaksana Wirabraja 2026 yang juga Dandim 0307 Tanah Datar, Letkol Inf Agus Priyo Pujo Sumedi, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Pemerintah Daerah, Forkopimda, panitia, donatur, dan seluruh masyarakat.

“Saya berharap pada pelaksanaan pacu kuda di bulan Oktober mendatang, acara ini bisa lebih meriah, lebih ramai, dan tentunya lebih tertib,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Harian Pordasi Kabupaten Tanah Datar, Yon Hendri Dt. Rajo Bandaro, membenarkan peluang digelarnya pacu kuda kembali pada Oktober 2026. Menurutnya, secara teknis, pacu kuda bahkan berpeluang digelar dua kali dalam setahun, tergantung kesiapan panitia dan arena.

“Kami dari Pordasi bisa saja mengagendakan kembali. Tidak menutup kemungkinan pacu kuda digelar dua kali dalam setahun,” katanya.

Penutupan Wirabraja Pacu Kuda Open Race dan Tradisional 2026 turut dihadiri Ketua DPRD Tanah Datar Anton Yondra, Kejaksaan Negeri Tanah Datar, Sekretaris Daerah, para Asisten, Ketua Pordasi Sumbar, serta tamu undangan lainnya.

Saat matahari mulai condong ke barat dan sorak sorai perlahan mereda, satu hal terasa pasti: Wirabraja bukan hanya telah usai, tetapi juga meninggalkan janji. Janji bahwa di bulan Oktober nanti, dentum tapak kuda akan kembali menggema—membawa tradisi, kebanggaan, dan harapan yang tak pernah lekang oleh waktu.

NB

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *