KUMANGO | Di saat suasana nagari sempat diwarnai ketegangan akibat sebuah peristiwa yang menyita perhatian publik, Wali Nagari Kumango, Iis Zamora Putra, S.Pd., NL.P, mengambil posisi yang teduh dan penuh perhitungan. Ia tidak membiarkan keadaan dikendalikan emosi, melainkan berusaha menjaga keseimbangan antara rasa keadilan dan nilai persaudaraan yang menjadi napas kehidupan masyarakat Kumango.
Ia menjelaskan bahwa ketika kejadian berlangsung, dirinya tidak berada di lokasi. Ia tiba sekitar satu setengah jam kemudian. Sesampainya di tempat, fokus utamanya adalah meredam situasi dengan memisahkan pihak-pihak yang masih terbawa suasana, agar kondisi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Bagi Iis, kepemimpinan bukan hanya soal kewenangan, tetapi tentang tanggung jawab moral. Karena itu, langkah yang ditempuh tidak semata prosedural, melainkan mengedepankan pendekatan persuasif dan kemanusiaan. Ia mendorong penyelesaian melalui dialog dan musyawarah.
Konsep Restorative Justice (RJ) menjadi rujukan dalam upaya penyelesaian tersebut. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemulihan hubungan, pengakuan kesalahan, serta tanggung jawab untuk memperbaiki dampak yang ditimbulkan. Menurutnya, menjaga harmoni sosial adalah prioritas utama dalam kehidupan bernagari.
Proses mediasi pun bergerak cepat. Dalam kurun waktu kurang dari satu hari, pertemuan telah difasilitasi untuk mempertemukan kedua belah pihak. Harapannya, persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa meninggalkan luka sosial yang berkepanjangan.
Ia menyebut bahwa pihak yang bersangkutan telah mengakui kekeliruan dan menyatakan kesediaan untuk meminta maaf. Selain itu, terdapat komitmen untuk menanggung biaya pengobatan serta kerugian lain yang timbul sebagai bentuk tanggung jawab.
Meski demikian, proses perdamaian belum mencapai titik temu. Karena belum ada kesepakatan bersama, perkara tersebut tetap diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku. Iis menegaskan bahwa supremasi hukum harus tetap dijunjung tinggi sebagai bagian dari tatanan negara.
Sebagai wujud tanggung jawab dan keterbukaan, ia hadir memenuhi panggilan aparat kepolisian guna memberikan keterangan sebagai saksi. Baginya, transparansi adalah bagian dari integritas seorang pemimpin.
“Saya tidak membenarkan tindakan yang salah dan tidak membela siapa pun. Setiap kesalahan harus dipertanggungjawabkan. Namun tugas saya sebagai Wali Nagari adalah memastikan kedamaian tetap terjaga dan persaudaraan tidak runtuh,” tegasnya.
Ia juga tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya kekurangan dalam penanganan awal kejadian. Evaluasi, menurutnya, adalah bagian dari proses memperbaiki diri dalam memimpin. Ia berkomitmen untuk lebih sigap dan tegas ke depan.
Peristiwa ini terasa semakin disayangkan karena kedua pihak sebelumnya dikenal memiliki hubungan yang baik. Ia berharap proses hukum yang berjalan tidak sampai memutus tali silaturahmi yang telah lama terjalin di tengah masyarakat.
Pemerintah Nagari Kumango di bawah kepemimpinannya menegaskan akan terus berdiri untuk seluruh warga tanpa keberpihakan. Nilai keadilan, kebersamaan, dan kebijaksanaan tetap menjadi fondasi dalam setiap kebijakan.
Sebagaimana petuah adat Minangkabau, “Nan kusuik ka manyalasai, nan karuah ka manjaniahkan.” Setiap persoalan diyakini dapat dicari jalan keluarnya dengan pikiran jernih dan hati yang lapang. Di tengah dinamika itu, Iis Zamora Putra menempatkan diri sebagai penjaga harmoni dan pengayom bagi masyarakat Kumango.
TIM







