BATUSANGKAR | Sore itu, aroma kolak, gorengan hangat, dan aneka jajanan khas Minang berpadu dengan riuh suara tawar-menawar di Pasar Pabukoan Batusangkar. Menjelang waktu berbuka, ratusan warga memadati lapak-lapak pedagang, berburu takjil untuk keluarga di rumah. Di tengah keramaian itu, tampak sosok Bupati Tanah Datar, Eka Putra, berjalan menyapa pedagang satu per satu.
Didampingi Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (KUKMP) Masni Yuletri, Bupati turun langsung meninjau aktivitas Pasar Pabukoan, Sabtu (28/2/2026). Kunjungan itu bukan sekadar seremonial, melainkan upaya memastikan denyut ekonomi masyarakat selama Ramadan tetap bergerak stabil dan aman.
Ramadan selalu menghadirkan cerita tersendiri di Batusangkar. Setiap sore, Pasar Pabukoan menjadi pusat pertemuan warga dari berbagai penjuru nagari. Transaksi berlangsung cepat, pedagang sibuk melayani pembeli, sementara anak-anak kecil menggenggam jajanan favorit mereka dengan wajah sumringah.
Eka Putra tampak berhenti di beberapa lapak, menanyakan langsung kondisi dagangan dan omzet pedagang. Ia ingin memastikan para pelaku UMKM benar-benar merasakan dampak positif dari Ramadan tahun ini. Dari dialog singkat itu, ia mendapat kabar menggembirakan: dagangan rata-rata habis terjual sebelum azan Magrib berkumandang.
“Saya sore ini melihat langsung bagaimana perputaran ekonomi masyarakat di Pasar Pabukoan. Alhamdulillah, tadi saya tanya satu per satu pedagang dan mereka menyampaikan dagangannya habis terjual. Harapan kita kondisi ini terus berlanjut hingga Ramadan selesai,” ujar Eka Putra.
Selain memastikan geliat ekonomi, Bupati juga memantau ketersediaan dan harga bahan pokok. Menurutnya, hingga saat ini stok kebutuhan pokok di Kabupaten Tanah Datar masih mencukupi dan harga relatif stabil. Pemerintah daerah terus berkoordinasi agar tidak terjadi lonjakan harga yang memberatkan masyarakat.
Namun, perhatian Bupati tak hanya pada angka dan perputaran rupiah. Ia secara tegas mengingatkan para pedagang agar tidak menggunakan bahan berbahaya dalam makanan dan minuman yang dijual. Baginya, keselamatan dan kesehatan masyarakat jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan sesaat.
“Mari kita jaga kebersihan, kesehatan, dan keamanan lingkungan di Pasar Pabukoan ini. Pastikan makanan yang dijual aman dan tidak menggunakan bahan berbahaya,” imbaunya dengan nada serius namun tetap bersahabat.
Eka Putra juga mendorong pedagang untuk menghadirkan makanan khas tempo dulu yang kini mulai jarang ditemui. Ia menilai, kuliner tradisional memiliki daya tarik tersendiri dan bisa menjadi ciri khas Pasar Pabukoan, sekaligus mengangkat nilai budaya lokal di tengah modernisasi jajanan.
Di sisi lain, para pedagang menyambut hangat kunjungan tersebut. Mereka merasa diperhatikan dan didengar secara langsung oleh kepala daerah. Sejak lokasi pasar dipusatkan di Pasar Atas Batusangkar, mereka mengaku penjualan meningkat signifikan.
“Alhamdulillah, beberapa hari ini dagangan kami habis terjual,” ungkap salah seorang pedagang dengan wajah lega, seraya menunjukkan etalase yang hampir kosong.
Bagi masyarakat Tanah Datar, kehadiran pemimpin di tengah pasar bukan sekadar simbol. Ia menjadi penanda bahwa pemerintah hadir menjaga stabilitas harga, keamanan pangan, dan keberlangsungan usaha kecil. Di bulan penuh berkah ini, Pasar Pabukoan bukan hanya tempat bertransaksi, tetapi juga ruang tumbuhnya harapan dan kebersamaan.
Di akhir kunjungannya, Bupati mengajak seluruh umat Muslim di Tanah Datar untuk meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah selama Ramadan 1447 Hijriah. Sambil melangkah meninggalkan pasar, ia berharap denyut ekonomi rakyat terus menguat, dan setiap hidangan berbuka yang tersaji di meja makan masyarakat benar-benar aman, sehat, dan penuh berkah.
NB







