Ketika Muzaki, Relawan, dan Lembaga Zakat Bersatu Menguatkan Korban Bencana

KMN, TANAH DATAR | Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan rumah-rumah yang masih meninggalkan jejak genangan, ada satu hal yang paling terasa di Kabupaten Tanah Datar: gelombang solidaritas. Setiap donasi, sekecil apa pun, berubah menjadi harapan baru bagi warga yang sedang berjuang bangkit pascabencana.

Baznas Kabupaten Tanah Datar berdiri di tengah arus kepedulian itu. Sejak awal bencana, lembaga tersebut menjadi simpul penghubung antara keikhlasan para muzaki dan kebutuhan mendesak para penyintas. Bantuan datang silih berganti, membuktikan bahwa masyarakat Tanah Datar tidak pernah berjalan sendirian.

Dr. Yasmansyah, S.Ag., M.Pd., Pimpinan Baznas Tanah Datar, menyaksikan langsung bagaimana setiap paket beras, setiap selimut, dan setiap rupiah yang disalurkan mengubah keputusasaan menjadi kekuatan. Menurutnya, dukungan itu lebih dari sekadar bantuan materi—ia adalah bahasa kemanusiaan yang menyatukan banyak hati.

“Setiap donasi memiliki cerita,” ucap Yasmansyah dalam satu kesempatan. Ada masyarakat yang datang langsung ke sekretariat Baznas membawa amplop hasil patungan keluarga. Tak sedikit pula para perantau yang mengirimkan donasi karena ingin kampung halaman mereka segera pulih. Semua bergerak, semua ingin terlibat.

Tak hanya dari dalam daerah, simpati juga datang dari Baznas lintas wilayah. Dari Riau, Dharmasraya, Payakumbuh, hingga Sawahlunto—semua mengamanahkan bantuan melalui Baznas Tanah Datar. Kolaborasi itu memperlihatkan bagaimana jaringan zakat bisa menjadi kekuatan besar saat bencana melanda.

Peran Baznas RI pun sangat terasa. Mereka datang membawa dukungan logistik, membuka dapur umum, dan menghadirkan tenaga medis Rumah Sehat Baznas. Di banyak titik, masyarakat menyebut layanan kesehatan ini sebagai penyelamat, terutama bagi kelompok rentan yang tidak bisa menunggu lama untuk mendapatkan bantuan.

Baznas Provinsi Sumatera Barat juga terus memberikan arahan dan dorongan untuk memastikan seluruh proses berjalan tepat sasaran. Setiap arahan menjadi panduan penting, sebab penanganan bencana membutuhkan koordinasi yang rapi dan menyeluruh.

Hingga 12 Desember 2025 pukul 15.37, dana bantuan yang terkumpul sudah mencapai Rp167.147.500. Angka itu bukan sekadar nominal—ia adalah potret kepercayaan publik kepada lembaga zakat daerah. Dari total tersebut, sebanyak Rp87.500.000 telah disalurkan untuk kebutuhan paling mendesak.

Namun, perjalanan belum selesai. Pascabencana, tantangan berikutnya adalah membangun kembali kehidupan warga. Baznas Tanah Datar telah menyiapkan program pemulihan rumah, layanan logistik lanjutan, hingga pemberdayaan ekonomi. Fokusnya bukan hanya memperbaiki, tetapi juga menghadirkan kekuatan baru bagi para penyintas.

Di banyak nagari, terlihat bagaimana warga saling membantu membersihkan puing, memperbaiki rumah, dan menghidupkan kembali aktivitas ekonomi sederhana. Bantuan yang disalurkan Baznas mempercepat upaya itu, sekaligus menjaga semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Tanah Datar.

Pada akhirnya, bencana memang meninggalkan luka. Tetapi di Tanah Datar, luka itu selalu diobati oleh gotong royong. Lewat tangan para donatur, muzaki, dan relawan, harapan terus tumbuh. Dan selama empati mengalir, Tanah Datar tidak akan pernah runtuh oleh musibah.

 

Catatan Redaksi:
Tulisan ini disusun dalam format feature untuk memberi gambaran humanis tentang upaya pemulihan di Tanah Datar setelah bencana.

Nano Bojes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *