Bupati Eka Putra “Gaspol”: Kafilah Baru Turun Bus, Bonus Langsung Cair!

KMN, TANAH DATAR | Batusangkar kembali punya malam yang berdenyut antusias. Lampu Gedung Indojolito belum padam ketika rombongan kafilah MTQ turun dari kendaraan mereka.

Keringat masih menempel, lelah masih terasa, tetapi ada satu hal yang langsung menyedot perhatian: Bupati Tanah Datar Eka Putra sudah menunggu di depan, bukan untuk berpidato panjang—melainkan langsung menyerahkan bonus.

Tidak ada besok. Tidak ada rapat. Tidak ada protokoler bertele-tele. Bonus cair seketika.

Bagi sebagian orang ini kejutan; bagi Bupati Eka Putra, ini cara menghargai kerja keras.

“Alhamdulillah seluruh kafilah kembali dalam keadaan sehat walafiat. Saya mengucapkan terima kasih atas perjuangan luar biasa. Kita berhasil meraih peringkat keempat,” ungkap Bupati Eka Putra, membuka sambutan dengan nada penuh kemenangan.

Peringkat empat di tengah persaingan superketat Sumatera Barat bukan capaian main-main.

Bupati Eka Putra menyadari hal itu. Karena itu, yang ia berikan bukan hanya bonus:

ia menyuntik mental, membangun momentum, dan mematok target lebih tinggi.

“Ini pijakan penting. Modal berharga. Dari sini kita ke lebih baik lagi,” tegasnya.

Para peserta masih terkesima. Bayangkan saja:

baru beberapa jam sebelumnya mereka masih duduk di arena kompetisi Bukittinggi.

Malam ini, mereka diperlakukan layaknya pahlawan. Dan pahlawan pantas dihargai cepat.

Bupati Eka Putra tidak ingin satupun kafilah merasa gagal hanya karena belum juara umum.

Ia menolak mental pesimis.

“Jangan merasa kalah atau menyerah. Terus belajar dan memperkuat hafalan Qur’an. Niat baik akan berbuah baik,” katanya, lugas.

Di balik optimisme itu, ada angka-angka prestasi yang sulit dibantah.
Ketua Kafilah H. Afrizon mengungkap 18 finalis dari total 73 peserta.
Hasil akhirnya memuaskan:
4 juara pertama
7 juara kedua
7 juara ketiga
Peringkat Tanah Datar langsung melesat dari posisi delapan ke empat.

Afrizon juga sempat memuji langkah kilat Bupati Eka Putra.

“Penyerahan reward sesaat tiba ini mungkin tercepat di Sumbar,” katanya tanpa ragu.

Tetapi malam itu bukan sekadar angka.
Yang kuat justru simbol—bupati langsung hadir, bukan wakil, bukan panitia, bukan pesan via humas.
Itu sinyal bahwa syiar Al-Qur’an berada di prioritas teratas pemerintahan Tanah Datar.

Bupati pun memastikan keseriusan itu bukan sporadis.

“Saya akan selalu mendukung kegiatan keagamaan. Ini bukan hanya mengejar juara, tapi bagaimana Al-Qur’an diamalkan dalam kehidupan,” ucapnya.

Malam itu, tepuk tangan pecah. Kelelahan lenyap. Pulang jadi pesta kecil.
Tanah Datar punya kepercayaan diri baru.

 

Catatan Redaksi: Dalam politik anggaran, yang tercepat biasanya yang paling niat. Kebijakan Bupati Eka Putra mengonversi prestasi menjadi motivasi langsung adalah model kepemimpinan berbasis aksi, bukan seremonial.

Nano Bojes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *